Peranan Media Lokal dalam Pemberdayaan Umat
January 18, 2010
Purwokerto, 16 Januari 2010. Semakin pesatnya berkembangnya media massa dari media cetak, elektronik sampai media internet membuat dampak tersendiri bagi mental dan masyarakat. Untuk itu diperlukan sebuah media lokal untuk kembali mengembalikan mental masyarakat anggar dapat menjunjung kembali nilai-nilai dan adat istiadat budaya lokal.
Hal itulah yang menjadi landasan crew mafaza 97.6 Fm mengadakan workshop media dengan tema penguatan media bagi pemberdayaan umat. Workshop media tersebut diadakan di GSG Lantai 2 masjid fathimatuzzahra dengan mengundang tokoh-tokoh media di wilayah kabupaten banyumas diantaranya Yudis Fajar (radar banyumas), ria sakti unggul (banyumas TV), Akhmad Tohari(Tokoh masyarakat), Agus Sutoyo(RRI) dan Agus Noor Shidiq (Portal Banyumas).
Menurut penuturan Akhmad Tohari, seharusnya bukan media yang memberdayakan masyarakat tapi masyarakatlah yang harus memberdayakan media. Hal itu dirasa wajar karena menurutnya masyarakat terlalu ditindas oleh kepentingan bisnis oleh mafia media. “kita harus atur media agar masyarakat tidak tertelan oleh meraka dengan menguasai banyumas dalam berbagai aspek, budaya, antropologi dan karakteristik masyarakatnya” sarannya.
Gerhana Matahari 15 Januari 2010
January 15, 2010
PURWOKERTO-(15/1) diduga akan terjadi fenomena alam yang sangat menakjubkan, yaitu Gerhana Matahari. Untuk itu umat Islam dianjurkan menjadikan momentum fenomena alam luar biasa tersebut sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri. Umat juga dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Gerhana Matahari sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ini ditegaskan KH M Natsir Zubaidi, Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) dalam perbincangan dengan Republika di Gedung MUI Jakarta, Kamis (14/1).
GERHANA matahari pada 15 Januari 2010 merupakan gerhana matahari cincin (annular), yaitu bundaran bulan tidak sepenuhnya menutupi matahari sehingga masih tersisa bagian yang bercahaya, yang mengesankan seperti cincin.
Namun di Indonesia, gerhana ini hanya akan nampak sebagai gerhana matahari sebagian (parsial), karena umbra gerhana hanya melintas di wilayah Afrika timur, India selatan dan Sri Lanka, Myanmar dan China bagian tengah. Di Indonesia, gerhana ini hanya bisa disaksikan di seluruh Pulau Sumatra, Kalimantan, serta sebagian Jawa dan Sulawesi.
Gerhana ini terjadi saat matahari di langit barat dilihat dari segenap wilayah Jawa Tengah dan seluruh tahapannya, yakni kontak awal, puncak serta kontak akhir bisa diamati sepenuhnya.
Puncak gerhana terjadi di antara jam 15:19- 15:23 WIB, bergantung pada lokasinya. Pada saat puncak, matahari akan nampak benjol (robek) sedikit di bagian kanan bawah (sisi utara).
Mengingat Jawa Tengah berdekatan dengan garis marginal gerhana maka durasi dan magnitude gerhana, yakni persentase ketertutupan matahari oleh bulan, menjadi berbeda-beda di setiap lokasi.
Magnitude gerhana ini sangat kecil, maksimal hanya 4 % (Brebes) dan cenderung menurun begitu beranjak ke timur. Demikian pula durasinya. Wonogiri menjadi wilayah dengan karakteristik gerhana paling minimal, yaitu durasinya hanya 24 menit dengan magnitude 0,9 % seperti disajikan dalam tabel berikut ini:
Karena durasinya bervariasi, maka bagi umat Islam terdapat situasi kondisional untuk menunaikan ibadah shalat sunah gerhana matahari.
Geometri gerhana matahari ini mirip dengan gerhana matahari cincin 27 Januari 632 yang bersejarah, karena terjadi bersamaan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW dari istri Mariah Qibthiyah dan menjadi sebab diturunkannya perintah melaksanakan shalat sunah gerhana.
Pada saat itu lintasan umbra berbentuk hampir sama dengan lintasan umbra gerhana matahari cincin 2010 ini, hanya saja lokasinya sedikit bergeser ke utara dengan melintasi Semenanjung Arabia bagian selatan. (Ma’rufin Sudibyo-10)


